Wali Kota Eri menekankan bahwa bantuan sosial tidak seharusnya menciptakan ketergantungan. Karena itu, ia menegaskan bahwa warga usia produktif yang memiliki kemampuan bekerja, tetapi tidak memiliki kemauan untuk berusaha, seharusnya tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah.
"Kalau merasa tidak mampu tapi ditawari pekerjaan tidak mau, ya kita akan hapus dari daftar bantuan. Kecuali lansia di atas 60 tahun yang tinggal sendiri, itu wajib di-cover penuh oleh pemerintah," imbuhnya.
Di kampung RW 9 Lemah Putro, solidaritas warga juga terlihat dari cara mereka mengelola lingkungan. Warga di sana menerapkan pemilahan sampah dari rumah tangga yang kemudian dikumpulkan dan dikelola melalui sistem bank sampah. Sampah kering yang terkumpul dijual, dan sebagian hasilnya dikembalikan kepada warga sebagai dana tambahan.
Wali Kota Eri memandang langkah tersebut sejalan dengan upaya membangun lingkungan permukiman yang sehat dan berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menciptakan lingkungan yang Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI). "Kalau ada warga yang tidak mau kerja bakti tapi mengeluh banjir, jangan didengarkan. Kita harus bergerak bersama," tegasnya.
"Saya ingin RW 9 Lemah Putro ini menjadi contoh bagi RW-RW lainnya di Surabaya. Jika RW-nya gerak, PKK-nya gerak, KSH-nya gerak, dan warganya kompak, maka kesejahteraan itu pasti tercapai," tuturnya.
Selain RW 9 Lemah Putro, praktik serupa juga terlihat di Kampung Pancasila RW IV Kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo. Di kampung tersebut, solidaritas warga berkembang melalui berbagai inisiatif kolektif, mulai dari pengelolaan sampah mandiri, sistem keamanan lingkungan terpadu (SISKAMDU), hingga pengumpulan dana sosial antarwarga.
Wali Kota Eri kembali menekankan bahwa kekuatan utama dari Kampung Pancasila justru terletak pada kepedulian sosial yang tumbuh dari masyarakat. Ia pun mengapresiasi keterlibatan warga RW IV Ngagel Rejo yang aktif membantu antar sesama.
"Alhamdulillah Kampung Pancasila ini luar biasa. Di sini sudah jalan terkait pilah sampah, terkait orang yang (mampu) membantu orang yang tidak mampu," ujar Wali Kota Eri saat meninjau RW IV Ngagel Rejo pada Minggu (22/2/2026).
Melihat berbagai praktik yang berkembang di kampung tersebut, Wali Kota Eri menginginkan RW IV Ngagel Rejo Surabaya menjadi salah satu contoh pengembangan Kampung Pancasila bagi wilayah lain. "Saya matur nuwun sanget (terima kasih banyak). Ini saya buat jadi prototype, jadi contoh untuk Kampung Pancasila yang lainnya yang belum ada," tegasnya.
Ketua RW IV Ngagel Rejo, Endang Purwaningtyas, menyampaikan bahwa solidaritas warga di lingkungannya telah berkembang menjadi sistem bantuan sosial yang terkelola secara kolektif. Ia mencatat, sejak 2024 hingga Februari 2026, total donasi yang dihimpun dari warga mencapai Rp90.331.000 dan sebagian besar telah disalurkan untuk berbagai kebutuhan sosial masyarakat.
"Dari tahun 2024 sampai hari ini, kami mendapatkan donasi dari warga Rp90.331.000. Lalu kami donasikan Rp88.686.500. Jadi kami ada saldo Rp1.644.500," ujar Endang.
Selain donasi sosial, warga RW IV Ngagel Rejo juga mengembangkan program santunan kematian. Program ini diikuti 741 kepala keluarga, dengan iuran sukarela Rp2.000 setiap kali ada warga yang meninggal dunia. Dana tersebut digunakan untuk membantu keluarga yang berduka, termasuk kebutuhan pengurusan jenazah."Kita berikan pada yang meninggal Rp1 juta. Untuk jasa mensucikan jenazah Rp50.000 dan jasa pemakaman Rp50.000. Jadi sampai November 2025, kami punya saldo Rp50.038.300," katanya.
Di sisi lain, kemandirian ekonomi warga RW IV Ngagel Rejo juga diperkuat melalui Bank Sampah "Guyub Sayekti" di RT 18. Setiap bulan, bank sampah tersebut mampu mengelola sekitar 3 hingga 3,5 ton sampah kering yang kemudian dijual untuk membiayai berbagai kebutuhan kampung, mulai dari pengadaan CCTV hingga bantuan pendidikan bagi warga. "Pemilahan sampah dilakukan seluruh warga lintas usia, dijadikan media untuk menjaga hubungan, keguyuban dan gotong royong," kata Endang.
Saat ini tercatat sekitar 452 rumah aktif memilah sampah kering di wilayah tersebut. Kegiatan itu juga didukung oleh 48 unit urban farming serta berbagai instalasi biopori dan eko-enzim yang tersebar di lingkungan kampung.
Sementara itu, Ketua RW 9 Lemah Putro, Agung Diponegoro, mengatakan bahwa konsep Kampung Mandiri di wilayahnya terus diperkuat melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. "Kami memiliki sistem perlindungan sosial mandiri. Di antaranya bantuan kesehatan Rp250.000 untuk warga yang sedang sakit (dirawat di Rumah Sakit) dan santunan kematian Rp400.000," kata Agung.
Agung menyebut, warga juga mengembangkan berbagai program ekonomi swadaya. Termasuk budidaya lele dan pengelolaan Kas Kampung Madani yang dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan sosial warga. "Inilah lini ekonomi yang terus kami jalankan di Lemah Putro dengan solidaritas dan gotong royong," pungkasnya. (ADV)




