"Kuliner Legendaris" Warisan 1977

Nanik owner Dawet Blauran

 

SURABAYA - Dawet Blauran merupakan salah satu kuliner yang telah dikenal masyarakat Surabaya sejak puluhan tahun lalu. Hingga kini, minuman tradisional tersebut masih ramai diminati berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang tua. Berada di kawasan Pasar Blauran, keberadaan kuliner kini tidak hanya didominasi penjual dawet. Beragam makanan dan jajanan tradisional juga dapat ditemui, salah satunya dawet yang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga Hj. Rochmah.

Hj. Rochmah mulai berjualan dawet sejak tahun 1977. Seiring bertambahnya usia dan kondisi orang tua yang semakin tua, usaha tersebut kemudian dilanjutkan oleh putrinya, Nanik, sebagai generasi penerus. Selain membuat dan menjual dawet, Nanik juga mengembangkan usaha kuliner dengan menyediakan lontong mie serta berbagai jajanan pelengkap, di antaranya sate cecek, lento, tahu dan sejumlah makanan lainnya.

 

Pegawai penjual dawet si rambut pirang, sedang melayani pembeli

Saat ini, terdapat dua stand yang digunakan untuk berjualan. Satu stand merupakan milik sendiri, sedangkan satu stand lainnya yang berukuran lebih besar merupakan tempat yang disewa.

 

Menurut Nanik, setiap hari sekitar 250 pengunjung datang menikmati dawet yang dijualnya. Harga dawet rp 10.000 dan Lontong mie rp 15.000 untuk wilayah Surabaya tidak terlalu mahal.  “Banyak pengunjung yang menyampaikan kalau dawetnya enak sekali. Ada juga yang bilang cocok dengan dawet saya di sini. Akhirnya mereka datang lagi dan lagi untuk membeli,” ujar Nanik kepada Soerabaia Newsweek.

 

Bagi Nanik, meneruskan usaha yang telah dirintis orang tuanya bukan sekadar menjalankan bisnis, tetapi juga menjaga amanah dan warisan keluarga. “Alhamdulillah, saya bersyukur bisa meneruskan usaha jualan dawet dari orang tua. Semoga amanah yang diberikan orang tua ini bisa saya lanjutkan dan nantinya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya,” tutur Nanik.


Keberadaan Dawet Blauran menjadi salah satu gambaran bagaimana kuliner tradisional mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Dari generasi ke generasi, cita rasa dan usaha keluarga terus dipertahankan sehingga tetap memiliki pelanggan hingga saat ini. (Nen)

Lebih baru Lebih lama
Advertisement