![]() |
| Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi keluarga UPPKA di Kenjeran Surabaya |
SURABAYA – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menghasilkan produk berkualitas. Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, kemampuan membangun identitas merek atau branding menjadi kunci utama untuk merebut perhatian, mendapatkan kepercayaan, hingga memenangkan hati konsumen.
“Tanpa strategi branding yang tepat, produk yang berkualitas sekalipun berisiko kalah bersaing dengan produk lain yang lebih dikenal masyarakat,” kata Mohammad Syarrafah, salah satu narasumber dalam pelatihan pemberdayaan ekonomi keluarga bagi kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) di Kenjeran, Surabaya.
Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur, Mohammad Syarrafah, menjelaskan bahwa branding bukan sekadar membuat logo atau memilih warna kemasan. Lebih dari itu, branding merupakan proses membangun identitas dan citra produk agar memiliki karakter yang berbeda dari kompetitor.
"Branding bukan hanya soal logo yang menarik. Pelaku UMKM harus mampu membangun identitas, menyampaikan pesan merek, dan menciptakan pengalaman yang membuat konsumen mudah mengingat produknya," ujar Syarrafah.
Menurutnya, branding yang kuat dapat membantu meningkatkan kepercayaan konsumen, membangun kredibilitas usaha, sekaligus membuat kegiatan promosi menjadi lebih efektif. Karena itu, pelaku UMKM perlu memahami keunggulan dan karakter produknya sebelum memasarkannya kepada masyarakat.
Syarrafah menekankan bahwa konsistensi menjadi salah satu kunci dalam membangun merek. Penggunaan logo, warna, pesan komunikasi, dan tampilan promosi harus memiliki keseragaman agar produk mudah dikenali konsumen, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
"Produk UMKM harus memiliki pembeda. Keunikan produk lokal, proses pembuatan secara tradisional, atau cerita di balik usaha bisa menjadi kekuatan untuk membangun kedekatan emosional dengan konsumen," jelasnya.
Selain membangun identitas produk, pelaku UMKM juga didorong memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan WhatsApp untuk memperluas jangkauan pemasaran. Namun, Syarrafah mengingatkan bahwa aktivitas promosi digital tidak seharusnya hanya berisi penawaran produk secara terus-menerus.
Ia memperkenalkan strategi tiga pilar konten, yakni 30 persen konten edukasi, 40 persen konten cerita, dan 30 persen konten penjualan. Strategi tersebut bertujuan membangun kepercayaan, menciptakan kedekatan dengan konsumen, sekaligus mendorong transaksi.
"Media sosial jangan hanya dijadikan tempat berjualan. Konten edukasi membuat konsumen percaya, cerita membangun kedekatan dengan merek, sementara konten promosi mendorong keputusan pembelian," terangnya.
Menurut Syarrafah, pelaku UMKM dapat memulai strategi tersebut melalui langkah sederhana, seperti mengunggah foto produk, memperlihatkan proses produksi, membagikan testimoni pelanggan, hingga menceritakan perjalanan membangun usaha. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif untuk membangun hubungan dengan konsumen dibandingkan hanya mengandalkan unggahan promosi penjualan.
“Pemanfaatan perangkat desain digital seperti Canva juga dapat membantu pelaku usaha menjaga konsistensi identitas visual. Melalui fitur Brand Kit, pelaku UMKM dapat menyimpan logo, warna, dan jenis huruf merek agar materi promosi memiliki tampilan yang seragam,” katanya.
Syarrafah menilai penguatan branding menjadi kebutuhan penting bagi UMKM yang ingin berkembang. Pelaku usaha tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga perlu memahami cara membangun persepsi dan hubungan jangka panjang dengan konsumen.
"Branding yang kuat bukan hanya membuat produk dikenal, tetapi juga membantu membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen. Inilah yang perlu mulai dikembangkan oleh pelaku UMKM agar mampu bersaing secara berkelanjutan," ujarnya.
Melalui penguatan kemampuan branding dan pengelolaan konten digital, pelaku UPPKA Kenjeran diharapkan mampu mengembangkan identitas usaha yang lebih kuat, meningkatkan efektivitas promosi, serta memperluas peluang pemasaran produknya.
(Penulis: Mohammad Syarrafah Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur)

