Dedek Setia Santoso, Wujudkan Mimpi Melalui Bisnis Anggrek Yang Beraroma Prestasi

BATU - Aggrek dengan keindahan yang memukau dan ragam warna serta bentuk yang memikat, telah menjadi primadona di dunia tanaman hias. Salah satu varietas yang menarik perhatian para pencinta aggrek adalah dikenal dengan keunikan dan kecantikan tanaman ini dalam berbagai varietas.Pesona dan peluang pemasaran yang tersembunyi di balik keindahan aggrek.Bagaimana aggrek mampu dipasarkan  sampai memikat pasar tanaman hias internasional?berikut penuturan Dedek Setia Santoso, pemilik DD Orchid Nursery Batu.

Berawal dari hobi dan usahanya mencari pekerjaan sana sini hingga tiga tahun sejak lulus Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya-Malang tahun 2002. Menjadikan  Dedek Setia Santoso sukses menjadi petani Anggrek berskala internasional.

 

Menyadari bahwa hobi bisa mendatangkan hasil, membuat petani muda, Dedek Setia Santoso tergerak untuk menekuni hobinya mengembangkan Tanaman Anggrek di teras rumah orang tuanya yang sempit di desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Wisata Batu, Jawa Timur.

Hal itu ia lakukan sejak tahun 2005. Saat itu ia hanya bermodalkan uang Rp25 ribu untuk dibelikan bibit anggrek.Tidak ada yang menyangka bahwa cikal bakal kesuksesannya berawal dari anggrek yang ditanam dalam pot dan ditempatkan diatas meja itu menjadi pintu rezeki Dedek saat ini.

Sebelum memutuskan menekuni anggrek, sejumlah profesi dijalani Dedek untuk mencari nafkah. Ia memulai dengan mencari rumput di sawah untuk dijual sebagai pakan ternak. Ia juga pernah bekerja sebagai karyawan usaha katering. Waktu terus berlalu, Dedek mulai berfikir untuk mengembangkan bibit  anggrek dalam botol. Saat itu ia manfaatkan untuk mengumpulkan gelas atau botol air mineral yang sudah tidak dipakai untuk digunakan sebagai tempat media tanam tanaman anggrek miliknya.

Semula bibit anggrek hasil budi daya hanya dititipkan ke beberapa kios  tanaman  bunga di Kota Wisata Batu.”Setiap hari Jum’at saya menitipkan anggrek yang saya budidayakan.Hal ini dia lakukan karena setiap Sabtu dan Minggu  kios tanaman ramai dikunjungi pembeli. Jum’at minggu berikutnya saya datang lagi ke kios untuk menukar anggrek yang tidak laku dengan tanaman yang baru. Itupun lakunya tidak banyak, kadang Cuma 5 tanaman saja,” ujarnya mengenang kisah lalunya.

Dia mengaku, menekuni tanaman anggrek bukan karena tanpa alasan. Selain hobi, ceruk pasar tanaman anggrek juga masih sangat terbuka lebar. Bahkan harganya cenderung stabil dari tahun ke tahun.Diapun bersemangat untuk belajar secara otodidak mengembangkan anggrek melalui kultuir jaringan. Sadar jika tidak memiliki lahan, Dedek mengajak 25 orang tetangga sekitar rumahnya untuk Bersama-sama mengembangkan anggrek. Diantara 25 orang, hanya 1 orang yang bertahan. Tetapi. Setelah Dedek berhasil mengembangkan kultur jaringan beberapa orang bergabung untuk pengembangan bisnis anggrek.

“Bibit anggrek dalam botol membutuhkan waktu 2 tahun hingga siap berbunga. Karena itu, saya mulai mengembangkan system rantai pasok dengan mengatur pola tanam.Ada petani yang menerima tanaman umur 6 bulan untuk dikirim lagi pada petani berikutnya yang siap membungakan. Kerjasama seperti ini saya mulai dari 2 orang dan hingga kini sudah bekerjasama dengan 108 petani,” tuturnya.

Kini, Dedek boleh dibilang salah satu petani anggrek yang sukses di kota Batu. Dalam satu bulan Dedek bisa meraup omset hingga ratusan juta. “Sekarang pembelinya pun banyak dari luar negeri, kalau dulu awal awal ya hanya seputaran wilayah Batu saja,” ujar Dedek

Anggrek milik Dedek sering mendapat penghargaan. Penghargaan pertama ia ter4ima tahun 2013 sebagai juara 1 Anggrek Tingkat Propinsi Jatim. Berikutnya tahun 2015 menyabet anggrek unggul Nasional. Puncaknya, pada tahun 2018 anggrek persilanganya meraih predikat tertinggi First Class Certificate (FCC)  OSSEA dari Singapura.

Dedek ibarat kacang yang tidak lupa kulitnya. Dia tidak pernah lupa sulitnya mencari pekerjaan. Untuk itu, Dedek secara sukarela meyiapkan rumah menjadi pusat belajar dan penelitian bagi semua orang, dari dalam maupun luar negeri. Dengan harapan usai menimba ilmu di DD Orchid bisa membuka usaha. Mahasiswa serta siswa SMK yang  melakukan penelitian di DD Orchid Nursery milik Dedek Setia Santoso, dalam sebulan rata-rata  20 hingga 30 siswa maupun mahasiswa.

Selain suksus menjadi petani anggrek, Dedek tidak pelit ilmu. Dia sering menjadi pembicara dalam pelatihan tanaman angrek di berbagai negara.Rumahnya juga terbuka bagi siapapun untuk belajar anggrek secara grat Kini tanaman anggrek miliknya selalu kebanjiran pesanan. Ditambah lagi dengan penjualan online yang ia lakukan ke seluruh Indonesia.

Berawal dari Otodidak

Pada tahun 2007 Dedek mulai bersemangat mengembangkan anggrek melalui kultur jaringan. Meski sering gagal karena belajar secara otodidak, Dedek mempelajari budi daya anggrek secara otodidak berbekal kesukaannya merawat tanaman. Selama budi daya ia sudah mengalami sejumlah kegagalan percobaan hingga ratusan kali namun dia tidak patah semangat .

“Sebagai permulaan saya memanfaatkan tempat seadanya untuk budi daya. “Dulu di depan rumah ada pekarangan kecil berukuran sekitar setengah meter persegi itu yang saya gunakan,” kenang pria kelahiran 21 Juni 1978 tersebut.

Ketika awal-awal budi daya anggrek, Dedek sering menemui sejumlah kendala. Pasalnya ia tidak mengetahui informasi dasar terkait budi daya anggrek. Dedek tidak menyerah. Ia mencoba berkonsultasi dengan teman-temanya secara langsung dan mulai membaca referensi budidaya tanaman anggrek.

Bahkan pengalaman pahit Dedek rasakan ketika orang tua tidak mendukung. Orang tuanya tidak ingin melihat ia menjadi seorang petani. Karena anggapan orang tuanya menjadi petani itu pekerjaan yang sengsara.Tapi Dedek mampu membuktikan, bahwa apa yang dia kerjakan ini bermanfaat untuk orang lain.

Kini Dedek membuka diri untuk bekerja sama dengan petani sekitar. “Hingga saat ini kurang lebih ada 40 petani plasma yang sudah bergabung,” Kata Dedek di pekarangan tanaman anggrek miliknya.

Selain petani setempat, ada pula petani dari luar daerah, seperti Jombang dan Lumajang. Petani-petani tersebut mengambil bibit Anggrek darinya dengan gratis. Setelah itu, anggrek yang sudah dirawat oleh petani kemudian dibeli oleh Dedek.

Dedek kini mampu mepekerjakan 28 orang tenaga kerja, ada yang tetap dan ada yang harian. Pekerja maupun mahasiswa yang melakukan penelitian  mempersiapkan anggek yang siap dikirim. Selain dibeberapa daerah di Indonesia, tanaman anggrek juga dikirim di beberapa Negara.

Selain bekerjasama dengan petani mitra, Dedek juga membuka kesempatan untuk melakukan kerja sama dengan pihak luar seperti dropshipping. Dimana dropshipper ini akan memasarkan tanaman Anggrek melalui sosial media yang nantinya akan menjadi perantara antara konsumen dan DD Orchids tanpa harus menanam, merawat atau memiliki Anggrek tersebut secara langsung. Hal ini dapat membantu dalam hal pemasaran tanaman Anggrek agar bisa menjangkau banyak lapisan masyarakat.

Dedek kini telah memiliki laboratorium  kultur jaringan sendiri. Dalam sehari ia bisa memproduksi 9 ribu bibit tananam anggrek.Dengan luasan lahan sekitar 6 hektar yang dikerjakan dengan mitra tani, kini Dedek leluasa mengedangkan sayapnya untuk pengembagan anggrek

Rumah Hijau Tanaman Anggrek seluas 300 ribu meter persegi miliknya di dekat rumah sangat terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar mengenai tanaman anggrek. Mulai dari cara budidaya, perawatan maupun pemasaran.Hal itu bukan karena tanpa sebab, Dedek menyadari bahwa untuk belajar mengenai tanaman anggrek sulit, tidak semuanya mau terbuka untuk berbagi ilmu.

Ia tak mau kejadian pahit seperti yang dialaminya itu juga dirasakan oleh orang lain. Ia bernazar, kelak ketika dia sukses dengan budi daya anggrek yang dia tekuni akan berbagi ilmu ke siapapun juga yang ingin belajar mengenai anggrek. “Kalau mau belajar disini, gratis. Saya merasa senang, karena selalu menambah jaringan baru,” ujarnya membuka diri.

Tak pelak, kebun anggrek dan laboratorium kultur jaringan yang diberi nama DD Orchid Nursery itu menjadi salah satu tempat pilihan untuk melakukan penelitian para pelajar, dari setingkat Sekolah Menengah Atas (SMK), Mahasiswa maupun masyarakat umum.Rumahnya pun ia jadikan fasilitas penginapan untuk peneliti yang berasal dari luar daerah, seperti Surabaya dan Jember.

Karena ketekunannya ia juga sering mendapat undangan mengikuti kejuaraan tanaman anggrek, seperti di Hongkong, Singapore. Jepang, Thailand dan Malysia. Ia juga sering diminta untuk menjadi pembicara dalam pelatihan tentang tanaman anggrek. Tidak kurang dari 40 jenis anggrek hasil persilangan Dedek.

 Dedek Setia Santoso, pemilik DD Orchid telah mengembangkan tidak kurang dari 40 jenis anggrek Dendrobium dan sebanyak 506 Varietas Anggrek yang  telah dipatenkan.  Beberapa hasil persilangan unggul yang terkenal antaralain Dendrobium Palu Bangkit, Dendrobium Lombok Bangkit, Dendrobium Indonesia Damai, Dendrobium Zamrud Khastulistiwa, dan Dendrobium Prabowo Subianto. Anggrek hasil persilangan Dedek telah didaftarkan di The Royal Horticultural Society (RHS) di London, Inggris, yang diakui secara internasional.(Sha)

Lebih baru Lebih lama
Advertisement