Menurut ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno Dokter Sudi Hariyanto ,Prasasti Kamalagyan ini sangat penting selain memberi keterangan mengenai tata kelola air pada masa masa pemerintahaan raja Airlangga juga dibangun diatas batu Andesit dan ditulis dengan huruf bahasa Jawa kuno." Isi prasasti itu antara lain menyebutkan dibangunnya sebuah bendungan di Waringin Sapta oleh Airlangga raja dari Kahuripan bersama rakyat," terangnya.
"Prasasti tersebut menjelaskan dibangunya bendungan itu karena sering terjadi banjir akibat luapan sungai yang membanjiri persawahan,dari Kemalagyan sampai di wilayah Jumputrejo(Sekarang Wilayah kecamatan Sukodono) dan tentang hulu sungai yang di bendung belum jelas, kami belum menemukan artefaknya ," tambah Dokter Sudi sapaan akrab penggiat Sejarah Masa Kuno Sidoarjo.
Pada prasasti ini ungkap Dokter Sudi,yang menarik juga memuat puji-pujian terhadap raja sebagai ratu cakrawati (penguasa dunia) yang menyirami dunia ini dengan air amerta yang penuh kasih sayang. Prasasti Kamalagyan diketahui dikeluarkan hanya seminggu tambah sehari setelah Raja Airlangga berhasil mengalahkan raja Wijayawarman, raja terakhir yang masih belum tunduk (bulan Kartika tahun 959 Saka atau 10 November 1037M).
Ketua Komunitas Seni Budaya Brang Wetan Henri Nurcahyo mengatakan,pihaknya sebagai pemrakarsa kegiatan Jagong Budaya dengan program perdana di lokasi prasasti Kamalagyan,di dukung komunitas Sidoarjo Masa Kuno (25/1/26)."Kami tahun 2026 memprogramkan kegiatan Jagong Budaya di lokasi Cagar Budaya atau tempat peninggalan sejarah di kabupaten Sidoarjo," pungkas Henry yang juga dikenal dengan penggiat legenda cerita Panji.
Juru pemelihara (Jupel)Prasasti Kamalagyan Husein mengatakan,pihaknya selama belum purna sebagai petugas pemelihara Prasasti Kamalagyan , tidak hanya membersihkan prasasti melainkan juga melengkapi sarana di sekitar tempat prasasti,"tutur pria yang kini berusia 73 tahun dan purna tugas dari jupel tahun 2012. Menurut Husein,meski pihaknya sudah purna tugas,namun tetap merawat prasasti yang berusia seribu tahun lebih itu.
Ia mengakui,kendati lokasi di tengah rumah penduduk,Prasasti-Situs ini,banyak dikunjungi pelajar ,kaitanya untuk memperdalam mata pelajaran sejarah."Ya memang tidak tiap hari,tapi satu Minggu sekali pasti ada pelajar yang berkunjung baik pelajar SD maupun SMP,SMA,"ujarnya.
Husein berharap,instansi pemerintah(Museum Purbakala) disamping segera menunjuk penggantinya juga membuatkan papan petunjuk untuk dipasang di lokasi prasasti dan membangunkan ruang sederhana di depan bangunan guna memberikan penjelasan kepada para pelajar-pengunjung yang ingin mendapatkan informasi tentang Prasasti Kamalagyan,"tandasnya. (Kris)



.jpeg)

.jpeg)