Amerika Kewalahan Lawan Tentara Tinja

Oleh : Anwar Hudijono

Tuhan itu punya tentara di seluruh jagat raya. “Dan milik Allah bala tentara langit dan bumi. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (Quran 48:7).

Tentara-Nya macam-macam. Dari yang enteng-enteng sampai yang berat. Ibaratnya ada yang cuma bersenjatakan ketapel sampai yang bom nuklir. Kelasnya pun macam-macam. Tergantung urusannya. Ada yang sekelas Satpol PP, ada yang kelas komando khusus.

Yang ringan misalnya berwujud kodok, belalang,  kutu, topan, darah yang ditimpakan kepada Firaun. Karena Firaun ndablek, tak menggubris tentara yang entang-enteng itu, akhirnya Allah mengirim tentara kelas berat berupa gelombang tsunami super dahsyat yang menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya.

Tentara kelas berat pula berupa badai dingin yang dikirim untuk membinasakan Bangsa Ad. Banjir bah yang menelan hampir seluruh umat Nabi Nuh. Tentara berupa gempa dahsyat yang menghancurkan umat Nabi Luth.

Ada juga tentara yang kelihatan enteng tapi ternyata dahsyat yaitu burung ababil. Mungkin burungnya biasa-biasa seperti burung emprit kaji atau jalak uren.  Tapi senjata yang dibawa kerikil dari neraka. Begitu ditembakkan ke Raja Abrahah dan tentaranya semua jadi ludes seperti daun dimakan ulat.

Saya menduga, Tuhan mengirim tentara-Nya yang berupa tinja untuk memperingatkan tentara Amerika. Tentara tinja? Ya tinja. Bukan ninja, pembunuh bayaran Jepang. Tinja itu dalam Bahasa Jawanya tai. Arek Surabaya menyebutnya taek. Arek Malang menyebutnya keat.

Kok bisa? Ceritanya begini. Kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald Ford itu memiliki 600 toilet untuk sekitar 4.500 awak dan penumpangnya. Ini kapal sangat mahal. Harganya Rp 200 trilyun. Ini kapal serba “ter”. Tercanggih. Terbaik. Terkuat. Termodern.

Pada saat hendak dipergunakan perang melawan Iran, timbul masalah. Sebagian besar toiletnya rusak. Banyak yang mampet. Tinjanya gak bisa disentor air. Entah tinjanya yang keras seperti beton eser atau sistem penyentorannya yang tidak beres.  Mungkin sekali tinjanya ekstra keras akibat bedegelen.

Akibatnya antrean panjang seperti barisan semut mau masuk liang. Tentu saja bukan barisan dalam suasana gembira seperti mau mendapat THR. Suasananya campur aduk. Ada yang mringis-mringis. Yang metenteng. Yang teriak-teriak agar yang di dalam mengakselerasi pengisingannya.  

Seseorang bisa antre sampai satu jam. Celakalah yang sudah kelewat kebelet. Mau tidak mau harus mbrojol di katok. Atau ndoprok sembarang tempat yang penting terlampiaskan.

Sampai di sinikah tragedi tinja? Tidak. Bau tinja menyebar ke seantero kapal. Kapal semewah apapun kalau full bau tinja, apalagi yang mencret, pasti tidak nyaman. 

Mau makan bau tinja. Tidur bau tinja.

Tinja ini menambah burnout, lelah fisik, mental dan emosional tentara Amerika. Burnout itu akibat mereka tiba-tiba diperpanjang masa tugasnya. Harapan untuk bisa pulang ketemu anak, istri, keluarga jadi sirna.

Mereka selalu dalam was-was. Saat bertugas di Laut Karibia tidak seberapa was-was karena yang dihadapi bandar-bandar narkoba. Tapi di Kawasan Teluk Persia yang dihadapi Iran yang punya rudal balistik, drone bawah air yang sewaktu-waktu bisa nyasar ke kapal.

Sudah dalam kondisi burnout begitu oleh negaranya masih dijadikan kambing hitam bahwa ada yang mencoba membakar kapal. Padahal kebakaran itu karena rudal Iran. Tapi biasa orang kecil selalu dijadikan tumbal penguasa.

Gara-gara tinja, semangat tempur tentara Amerika seperti hilang layaknya layang-layang kehilangan ragangan. Mereka maunya bisa secepatnya pulang biar bisa ndodok di toilet rumah sendiri sambil rokokan, atau main HP. USS Gerald Ford pun akhirnya ditarik mundur untuk memperbaiki toilet.

Tinja ini hanya bagian dari serentetan tentara Tuhan untuk memperingatkan Amerika karena kesombongannya. Melakukan penindasan di mana-mana. Melawan Tuhan. Sebelumnya berupa api yang menghanguskan kota paling dosa Los Angeles. Banjir bandang yang meluluhlantakkan sejumlah kota. Sekarang badai salju di New York.

Tapi saya yakin Amerika tidak percaya dengan peringatan Tuhan itu. Seperti halnya Firaun yang menurut Bibel sampai 10 jenis peringatan. Al Quran menjelaskan di Surah Al Araf 133 – 136.

Pada saat ditimpa azab berupa katak, kutu, belalang, topan, darah Firaun minta tolong Musa agar minta kepada Allah menghilangkan azab itu dengan janji akan beriman kepada Allah  dan membiarkan Bani Israil pergi dari Mesir. Tetapi setelah azab hilang Firaun ingkar janji. Sampai akhirna Tuhan mengirim tentara yang berat.

“Maka Kami hukum sebagian di antara mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka ke laut karena mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan melalaikan ayat-ayat Kami.”(ayat 136).

Apakah akhir Trump dan Amerika akan seperti Firaun dan Mesir? Allahu a’lam bissawab.

Anwar Hudijono, pensiunan wartawan Kompas.

Lebih baru Lebih lama
Advertisement