Dosen UPN Veteran Jatim Dorong Literasi Keuangan Guru untuk Tingkatkan Kesejahteraan




Literasi keuangan menjadi salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki guru di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan semakin beragamnya layanan keuangan digital. Pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan dinilai dapat membantu guru mengambil keputusan finansial secara bijak, menghindari jeratan utang konsumtif, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Eunike Rose Mita Lukiani, S.Pd., M.Pd. dan Noer Aida Triandini, dosen Ekonomi Pembangunan UPN “Veteran” Jawa Timur, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Literasi Keuangan Guru sebagai Upaya Meningkatkan Kesejahteraan”. Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Latifatul Mamnunah, dosen Teknik Sipil Universitas Madura.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut menyasar kalangan guru sebagai kelompok strategis yang tidak hanya berperan dalam proses pendidikan, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun perilaku ekonomi yang sehat di lingkungan sekolah dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, para guru diberikan pemahaman mengenai pentingnya perencanaan keuangan, pengelolaan pendapatan, pengendalian pengeluaran, serta pemanfaatan layanan keuangan secara aman dan produktif.

Eunike Rose Mita Lukiani mengatakan, literasi keuangan bukan sekadar kemampuan mencatat pemasukan dan pengeluaran, melainkan keterampilan dalam merencanakan masa depan. Menurutnya, guru perlu memiliki kesadaran finansial yang kuat agar mampu menjaga stabilitas ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan kualitas hidup.

“Guru memiliki tanggung jawab besar dalam dunia pendidikan. Namun, di sisi lain, guru juga perlu memiliki ketahanan finansial yang baik. Melalui literasi keuangan, guru dapat mengelola pendapatan secara lebih terarah, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyusun prioritas keuangan keluarga,” ujar Eunike.

Dalam sosialisasi tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai penyusunan anggaran rumah tangga, pentingnya dana darurat, pengelolaan utang, tabungan, investasi sederhana, hingga kewaspadaan terhadap pinjaman online ilegal dan berbagai tawaran keuangan yang tidak jelas legalitasnya. Materi disampaikan secara praktis agar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Noer Aida Triandini menambahkan, peningkatan literasi keuangan guru juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan tenaga pendidik. Menurutnya, banyak persoalan keuangan keluarga tidak hanya disebabkan oleh rendahnya pendapatan, tetapi juga oleh lemahnya kemampuan mengelola keuangan.

“Kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar penghasilan, tetapi juga bagaimana penghasilan itu dikelola. Dengan perencanaan yang tepat, guru dapat lebih siap menghadapi kebutuhan rutin, kebutuhan pendidikan anak, kondisi darurat, maupun rencana jangka panjang,” jelas Noer Aida.

Sementara itu, Latifatul Mamnunah menekankan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, penguatan literasi keuangan perlu dilakukan secara berkelanjutan karena tantangan ekonomi keluarga semakin kompleks, terutama di era digital.

“Guru perlu dibekali pemahaman agar tidak mudah terjebak pada keputusan keuangan yang bersifat instan. Literasi keuangan menjadi bekal penting untuk membangun kemandirian dan ketahanan ekonomi keluarga,” katanya.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan melibatkan peserta dalam diskusi dan simulasi sederhana pengelolaan keuangan. Para guru diajak mengidentifikasi pola pengeluaran, menyusun skala prioritas, serta memahami pentingnya memiliki tujuan keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Melalui kegiatan ini, para dosen berharap guru dapat menerapkan prinsip pengelolaan keuangan yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari. Selain berdampak pada kesejahteraan pribadi dan keluarga, guru juga diharapkan mampu menularkan pengetahuan tersebut kepada siswa, rekan kerja, dan masyarakat sekitar.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan sosial-ekonomi masyarakat. Dengan peningkatan literasi keuangan, guru diharapkan tidak hanya semakin sejahtera, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam membangun budaya keuangan yang cerdas, aman, dan bertanggung jawab. 


(Penulis: Noer Aida Triandini)

Lebih baru Lebih lama
Advertisement