SURABAYA - PT
Langgeng Makmur Industri, Tbk dalam RUPST (Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan) dan
RUPS LB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) mengumumkan langkah divestasi
korporasi strategis yang merupakan bagian dari strategi besar perseroan untuk
memperbaiki likuiditas dan efisensi keuangan jangka panjang. Langkah tersebut
berupa rencana penjualan asset kepada pihak ketiga senilai Rp160miliar. Aset
tersebut akan dialihkan kepada PT Gunacipta Multirasa, perusahaan yang dikenal
sebagai produsen bumbu masak dengan merk kupoe-kopoe dan Duo Belibis.
Aset yang akan dijual berupa tanah seluas
43.722m2 beserta bangunan pabrik dan Gudang sekitar 13.150m2 yang berlokasi di
Jl. Faliman Jaya No 18 Daan Mogot KM19, Kota Tangerang, Banten.Karena nilai
transaksi material ini melebihi 50% dari total ekuitas perusahaan, perseroan
telah mengantongi persetujuan pemegang saham serta melibatkan penilai publik
independen demi memastikan prinsip keterbukaan informasi dan kewajaran
transaksi (fairness opinion) terpenuhi dengan baik.
Di tengah bergejolaknya geopolitik global
serta belum membaiknya daya beli masyarakat di dalam negeri, PT Langgeng Makmur
Industri Tbk (LMPI) menargetkan penjualan sebesar Rp 447 miliar sepanjang tahun
2026 ini. Meskipun angka ini mengalami penyesuaian dari capaian tahun
sebelumnya, perseroan berkomitmen penuh mengerahkan seluruh sumber daya agar
perusahaan tetap tumbuh positif.
Direktur PT Langgeng Makmur Industri Tbk,
Kosasih Koenawan menjelaskan bahwa target tersebut disusun dengan
mempertimbangkan berbagai faktor eksternal yang dinamis demi menjaga
keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan dinamika
industri manufaktur yang menantang.
"Meski dibayangi oleh tren penurunan
dari tahun lalu, perseroan menegaskan tidak akan bersikap pasif. Sebaliknya,
manajemen melihat setiap tantangan sebagai momentum untuk melakukan
transformasi internal dan mempertajam penetrasi pasar," ujar Kosasih pada
paparan publik perseroan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan
RUPS Luar Biasa Perseroan di Sidoarjo, Selasa (30/6/2026).
Dikatakannya, salah satu peluang strategis
yang akan dimaksimalkan tahun ini adalah gejolak nilai tukar rupiah terhadap
Dolar AS. Bagi perusahaan manufaktur yang berorientasi lokal, depresiasi mata
uang merupakan tekanan, namun bagi lini bisnis ekspor perseroan, momen ini
menjadi peluang untuk memperluas pasar ekspor khususnya di kawasan Asia.
Sepanjang tahun 2025, perseroan mencatat
penjualan sebesar Rp 472 miliar, turun sebesar Rp49 miliar atau terkontraksi
9,51% dibandingkan penjualan tahun 2024 yang sebesar Rp521 miliar. Penurunan
ini utamanya dipicu oleh melambatnya aktivitas ekonomi domestik yang menekan
volume serapan pasar.
Secara rinci, performa pasar domestik
terkikis 9,74% atau menyusut Rp51 miliar, dari Rp519 miliar pada 2024 menjadi
Rp469 miliar di sepanjang 2025. Penurunan ini bersumber dari divisi peralatan
dapur aluminium yang membukukan penjualan Rp238 milar, atau turun 7,24%. Divisi
peralatan rumah tangga plastik juga terkoreksi 15,67% menjadi Rp96 miliar,
disusul lini bisnis pipa, fitting, dan profil yang melandai 10,54% ke angka
Rp129 miliar.
Namun, di balik koreksi pasar domestik,
kinerja ekspor perseroan justru moncer. Penjualan ke luar negeri melesat
signifikan sebesar 42,44%, naik dari US$0,144 juta pada tahun 2024 menjadi
US$0,190 juta pada tahun 2025. Produk-produk unggulan perseroan kini semakin
kokoh mencengkeram pasar regional Asia, kawasan Timur Tengah, hingga merambah
Australia.
Corporate Secretary Perseroan, Henri
Subiyanto menjelaskan, pada kuartal pertama tahun 2026, perseroan berhasil
membukukan penjualan bersih sebesar Rp69 miliar atau masih mengalami penurunan
dibanding periode yang sama tahun lalu. Kontribusi terbesar masih disokong oleh
divisi peralatan dapur aluminium senilai Rp26 miliar dan divisi peralatan rumah
tangga plastik sebesar Rp20 miliar. Secara akumulatif, kedua divisi ini
mendominasi dan menguasai 67% dari total penjualan bersih perusahaan.
"Kinerja triwulan pertama 2026 ini belum
sepenuhnya optimal akibat terganggunya rantai pasok bahan baku plastik dan PVC.
Selain masalah logistik bahan baku, daya beli konsumen di sektor domestik yang
masih cenderung lemah turut memberikan tekanan ekstra terhadap ritme penjualan
produk-produk konsumer perseroan," ungkapnya.
Kondisi ini kian diperparah oleh volatilitas
harga komoditas global. Bahan baku berbasis minyak bumi untuk plastik dan PVC
sempat melonjak drastis hingga melampaui 100%, sementara harga aluminium dunia
ikut terkerek naik hingga 50%. "Meski demikian, perseroan memilih
kebijakan untuk tidak serta-merta menaikkan harga jual demi menjaga loyalitas
konsumen, sembari terus memantau pergerakan kompetitor," tandas Henri.
Meski harus menghadapi kondisi pasar yang
masih penuh tantangan, perseroan telah menyiapkan tujuh strategi terintegrasi.
Diantaranya dengan meningkatkan komunikasi intensif dengan pelanggan untuk
menjaring perubahan selera pasar serta melakukan perbaikan mutu
berkesinambungan. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat branding produk
rumah tangga maupun pipa di mata publik.
Untuk divisi pipa dan fitting, perseroan
secara agresif menambah variasi produk dan ukuran. Langkah ini diambil guna
menangkap peluang dari masifnya proyek-proyek infrastruktur yang digulirkan
oleh pemerintah maupun sektor swasta. Sementara di divisi plastik, perseroan
menggeser fokus untuk menjangkau segmen pasar menengah ke atas melalui produk
yang lebih fashionable dan bernilai tambah tinggi.
"Inovasi dan diversifikasi produk juga
terus digenjot untuk pengembangan pasar baru, dibarengi dengan komitmen menjaga
kualitas ketat dari proses produksi hingga ke tangan konsumen. Perseroan juga
aktif menjalin kemitraan strategis dengan pelanggan potensial di sektor
industri, serta menjalankan efisiensi di semua lini melalui optimalisasi aset
demi meningkatkan keunggulan kompetitif," tutur Henri (Sha)

