SURABAYA - RUPS
(Rapat Umum Pemegang Saham) PT Suparma TBk (30/6) di Surabaya memutuskan untuk membagikan
deviden saham dari kapitalisasi saldo laba dengan jumlah sebanyak Rp
492.038.092.000 yang terbagi atas 1.230.095.230 lembar.
Meskipun laba komprehensif
tahun berjalan 2025 Suparma meningkat 1,6% dibandingkan laba komprehensif tahun
berjalan 2024 menjadi Rp 104,8 miliar, namun pada RUPS tahun 2026 ini Suparma
tidak membagikan dividen tunai kepada para pemegang sahamnya.
Setelah dikurangi
pembentukan dana cadangan wajib sebesar Rp 20 miliar, sisa laba komprehensif
tahun berjalan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan Suparma,
pengembangan usaha dan investasi yang sebagian besar bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas mesin Refuse Derived Fuel (RDF), bangunan dan mesin
pendukung untuk Mesin Kertas No. 11. Sisanya untuk meningkatkan kualitas mesin
pengolahan bahan baku kertas bekas (de-inking machine), mesin cetak, instrument
analitik Quality Assurance (QA), dan bangunan kantor.
Direktur PT Suparma Tbk Hendro
Luhur usai RUPS menyatakan,rasio pembagian dividen saham tersebut adalah 100 :
30 yaitu setiap 100 saham lama dengan nilai nominal Rp 400 per lembar saham,
akan memperoleh 30 saham baru dengan nilai nominal Rp 400.
Lebih lanjut Hendro
menambahkan tujuan pembagian dividen saham antara lain meningkatkan modal
disetor agar memperkuat struktur permodalan Suparma sehingga mempermudah
memperoleh alternatif pendanaan untuk pengembangan usaha. Meningkatkan
distribusi laba Suparma kepada pemegang saham tanpa membebani kemampuan
keuangan Suparma. Menambah jumlah saham beredar sehingga likuiditas saham
Suparma meningkat.
“Peningkatan jumlah saham
beredar secara teoritis akan menurunkan harga saham sehingga membuka peluang
bagi investor dengan modal terbatas untuk ikut terlibat dalam transaksi saham
Suparma. “ujarnya.
Pada tahun 2025, Suparma
membukukan pertumbuhan penjualan bersih 0,41% menjadi sebesar Rp 2.740,7
miliar. Pertumbuhan tersebut disebabkan naiknya kuantitas penjualan Suparma
sebesar 2,5% mencapai 235,1 ribu MT dimana produk Kraft dan Duplex menyumbang
pertumbuhan kuantitas penjualan masingmasing sebesar 5,5% dan 1,5%. Pada tahun
2025 beban pokok penjualan mengalami sedikit penurunan 0,45% dibandingkan beban
pokok penjualan tahun 2024.
Penurunan beban pokok
penjualan dan kenaikan penjualan menyebabkan Suparma membukukan peningkatan
laba kotor sebesar 5,23% dari semula Rp 412,8 miliar di tahun 2024 menjadi Rp
434,4 miliar di tahun 2025, sehingga marjin laba kotor tahun 2025 mengalami peningkatan
menjadi 15,9% dari semula 15,1% di tahun 2024. Sepanjang tahun 2025, beban
operasional yang terdiri dari beban penjualan dan beban umum dan administrasi
mengalami kenaikan masing-masing sebesar 1,5% dan 12,2%. Sementara itu, beban
gaji dan upah di beban penjualan meningkat sebesar 5,9% sedangkan di beban umum
dan administrasi meningkat sebesar 9,6%.
“Penjualan bersih Suparma
untuk periode lima bulan pada tahun 2026 sebesar Rp 1.172,8 miliar atau setara
dengan 39,1% dari target penjualan bersih Suparma tahun 2026 yang sebesar Rp 3
triliun, dimana target ini naik 7,1% dibanding target penjualan Suparma tahun
2025,”.
Sementara kuantitas
penjualan kertas Suparma sebesar 92.960 MT atau setara dengan 36,5% dari target
kuantitas penjualan produk kertas tahun 2026 yang sebesar 255.000 MT, 6,3%
lebih tinggi dari target kuantitas penjualan produk kertas Suparna tahun 2025.
Sedangkan untuk hasil
produksi kertas Suparma pada periode lima bulan tahun 2026 sebesar 97.994 MT
atau setara dengan 39,2% dari target produksi kertas tahun 2026 yang sebesar
250.000 MT, dimana target produksi kertas ini tumbuh 10,7% dari target produksi
kertas Suparma tahun 2025.
Pada tahun 2024, Suparma
menganggarkan belanja modal setara dengan 23 juta Dolar AS untuk proyek
investasi Mesin Kertas No.11 (“MK 11”). Anggaran investasi tersebut sudah
mencakup mesin kertas utama beserta perlengkapannya, suku cadang, bangunan dan
prasarananya. MK 11 tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas terpasang
sebesar 27.000 MT.
Pada 6 Februari 2025
Suparma telah menandatangani kontrak pembelian mesin utama PM 11 dengan
supplier mesin kertas dari Finlandia senilai EUR 6,35 juta. Suparma berencana
menggunakan internal kas sebesar 6 juta Dolar AS untuk mendanai proyek
tersebut, sedangkan sisanya sebesar 17 juta Dolar AS akan didanai oleh bank
rekanan Suparma dalam bentuk fasilitas kredit investasi. MK 11 ini direncanakan
akan berproduksi komersial pada triwulan keempat tahun 2026. (Sha)

