YSPI-AL Badar Pekerjakan Karyawan Dengan Imbalan Tak Layak

TULUNGAGUNG - Kurang lebih 17 orang siswa-siswi dalam ikatan dinas di SMK AL-BADAR desa Rejoagung tahun 2013-2014, dan kelulusan tahun 2015-2016 terikat ikatan dinas. Di saat SK kelulusan belum keluar mereka mulai bekerja di perusahaan AL-BADAR berkantor di Jl. Pahlawan Gg : VI/1 Tulungagung. Salah satu dari karyawan  tersebut bernama, Hidayaturrohma, alamat desa Bungur dusun Ngledok, RT 03/01, Kecamatan Karangrejo, mendapat upah Rp 100 ribu sebagai uang saku. Selanjutnya, dia bekerja mendapat upah Rp 300 ribu, per bulan dipotong perusahaan Rp 200 ribu dan sisa yang diterima Rp 100 ribu, ucap Abdul Rohman (orangtua kandung Hidayah). 

Adiknya itu mulai bekerja pukul 06.00-18.00 WIB dengan jarak tempuh kurang lebih 5 kilometer dari rumahnya ke tempatnya bekerja, jelas Imam Ahmad ( kakak kandung Hidayah ) di rumahnya kepada SbNewsweek sabtu 11/3 siang. Adiknya terlalu banyak mendapat tekanan membuatnya tidak nyaman dan kerjanya bagian bantu masak, yang  Sebelumnya bekerja di bagian kantor. Dan semua pekerjaan tergatung  pimpinan yang dianggapnya tidak sesuai dengan kejuruan yang dia tempuh selama menuntut ilmu di SMK AL-BADAR. 

Maka adiknya minta keluar dari perusahaan tersebut karena sudah tidak lagi sejalan dengan cita-cita diharapkannya selama ini. Rupanya keinginan adiknya ingin keluar dari perusahaan Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam AL-BADAR ( YSPI-AL BADAR ) mendapat tantangan. Tantangan mulai dihadapi Hidayah ketika bersamanya menghadap Pimpinan , juga adiknya itu pernah bersama orang tuanya menghadap ke pimpinan untuk pengunduran diri adiknya dari perusahaan tersebut. Namun jawaban yang didapat dari perusahaan. 

Perusahaan tidak bisa semena-mena memberhentikan karyawan, karena ada ikatan dinas. Kewajiban punya hutang wajib membayar, kalau tidak, ada hukuman. Biaya yang ditanggung selama belajar hingga lulus Rp 7 juta sekian  membengkak Rp 10 juta. Tanggungan biaya sekolah itu harus dibayar hari itu juga, atau dipenjarakan, ungkap Imam. Abdul Rohman yang juga masih ada hubungan family mengatakan, tanggungan uang Rp 10 juta akan dia bayar dengan cara dicicil yang penting anaknya tidak di situ. 

Namun, usahanya sia-sia perusahaan tidak bersedia, kalau tanggungan tidak dibayar lunas saat itu, ujarnya. Sebelum adiknya meninggal dunia pernah berkata, mungkin tidak lama lagi dia akan mati. Setiap berangkat bekerja maupun pulang kerja adiknya itu sering menangis. Apalagi tanggungan hutang selama bersekolah di SMK AL-BADAR belum terbayar lunas, katanya sedih. 

Tekad Hidayah tidak berhenti disitu bersama teman-temannya minta bantuan hukum. Menceritakan persoalan yang dia hadapi di perusahaan tersebut dengan menyerahkan beberapa bukti keterangan. Belum tuntas memperjuangkan haknya  wanita yang memilik prestasi Pencak Silat di Jawa Timur meninggal dunia kecelakaan  sepeda motor dengan truk di Jl. Raya Pahlawan. Hidayah meninggal di tempat dan temannya selamat dari maut. 

Dikonfirmasi pimpinan Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam AL-BADAR di kantor perusahaannya pada Senin 13/3 siang mengatakan, dirinya sibuk banyak kerjaan menumpuk harus konfirmasi dulu, ucap pria itu. Pimpinan YSPI itu menolak kedatangan media dan pintu ruang tamu kantor ditutup setelah memberikan nomor ponsel kepada SbNewsweek. Hingga berita ini diturunkan pimpinan perusahaan tersebut tidak mau memberikan keterangan. Bersambung. (Tim)

Posting Komentar

0 Komentar