SURABAYA– Tak kuasa menahan kesedihan dan penderitaan yang
dirasakan selama ini, Eunike Lenny Silas salah satu terdakwa dugaan tindak
pidana penggelapan dan penipuan bisnis batubara yang disidangkan di Pengadilan
Negeri (PN) Surabaya, Selasa pekan lalu, menangis di depan persidangan.
Air mata pengusaha meubel di Jepara ini akhirnya menetes
di kedua pipinya saat membacakan nota pembelaan atau pledoi yang dibuatnya.
Terlihat beberapa kali Eunike Lenny Silas sampai berhenti sejenak membacakan
nota pembelaannya ini.
Dihadapan Efran Basuning yang ditunjuk sebagai ketua
majelis, dua hakim anggota, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan tim penasehat
hukumnya, Eunike Lenny Silas mengungkapkan banyak hal dalam nota pembelaannya
ini, termasuk bagaimana perkara pidana yang menimpa dirinya ini sampai
terkatung-katung beberapa bulan lamanya dan lamban.
Menurut Eunike Lenny Silas dalam nota pembelaannya,
lamanya proses hukum perkara pidana yang menjadikannya sebagai terdakwa ini tak
lain karena kondisi kesehatannya dan sakit kanker yang ia derita.
“Karena kondisi kesehatan dan sakit saya ini, untuk
berobat apapun akan saya tempuh karena saya harus hidup untuk membesarkan lima
anak saya, merawat ibu dan keluarga saya. Selain itu, saya harus berjuang hidup
untuk ribuan karyawan saya yang mana mereka menggantungkan hidup sepenuhnya
pada hasil kerja saya, “ ucap Eunike Lenny Silas dimuka persidangan.
Dari kecil, sambung Eunike Lenny Silas, saya memang
tidak mempunyai pendidikan yang tinggi, hanya sampai SMA. Tetapi dari kecil
saya diberi amanah orang tua saya untuk tidak berbuat dosa, tidak berbohong,
jalankan hidup apa adanya dengan pikiran positif dan berbuat baik pada semua
orang.
Pada nota pembelaan yang dibacakannya ini, Eunike
Lenny Silas juga mengungkapkan rasa bangganya sebagai warga Jepara. Meski
Jepara hanya sebuah kabupaten, namun Jepara menjadi harum dimata internasional.
“Mohon maaf, bukannya saya bermaksud menyombongkan
diri, sebagai warga Jepara saya merasa bangga dan bersyukur walau Jepara hanya
disebut sebagai kabupaten, tetapi saya bisa membawa nama harum Jepara ke kancah
internasional dengan karya-karya saya, “ papar Eunike Lenny Silas.
Karya-karya saya, lanjut Eunike Lenny Silas, begitu
dibanggakan sampai saya dijadikan warga negara kehormatan oleh negara tetangga.
Tetapi saya tidak bersedia dan tetap bangga menjadi warga negara Indonesia.
Usai menjelaskan beberapa hal di nota pembelaannya
ini, tiba-tiba suara Eunike Lenny Silas berubah pelan dan mulai terdengar
tangisan. Hal ini terjadi ketika Eunike Lenny Silas mulai membaca pernyataan
yang isinya kemunafikan dan didzolimi habis-habisan.
“Namun betapa sedihnya saya ketika harus mengalami
kemunafikan dan didzolimi habis-habisan setelah saya berpindah mendanai dari
Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur. Disinilah awal jatuh dan hancurnya
saya. Dalam sekejap uang ratusan miliaran habis, “ ungkap Eunike Lenny Silas sambil
meneteskan airmata.
Sambil meneteskan airmata, Eunike Lenny Silas juga
mengungkapkan, bukan cuma uang yang jumlahnya sampai ratusan miliar, seluruh
asset hasil kerjanya dari bisnis interior disita bank dan berpindah tangan.
Eunike Lenny Silas pun stress sampai sakit. Dokter memvonis Eunike Lenny Silas
sakit kanker. Dalam keadaan sakit dan terkapar, Eunike Lenny Silas terus
berjuang semampunya. Apapun ia lakukan untuk bisa bertahan hidup.
Pada persidangan ini, Eunike Lenny Silas juga
menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Tan Pauline sebagai pelapor dan
keluarganya. Dalam hubungan bisnis, Eunike Lenny Silas menganggap bahwa
keluarga Tan Pauline bagian dari keluarganya juga. Oleh karenanya, Eunike Lenny
Silas tidak pernah berfikir negatif terhadap Tan Pauline dan keluarganya.
Airmata Eunike Lenny Silas kembali tertumpah ketika ia
menyatakan bagaimana sedihnya ia yang sudah dituduh macam-macam. Selain itu,
Eunike Lenny Silas juga mengaku harus menjalani hal terberat yang tidak pernah
ia jalani dalam hidup.
“Saya hanya bisa berkeluh kesah kepada Tuhan meski
banyak orang yang tahu dan mengenal saya. Mereka semua support saya. Harta
habis, jiwa dan raga sakit, nama baik hancur lebur, tetapi dengan kemurahan
Allah, saya bersyukur masih bisa berdiri di sini, bisa bernafas dan berharap
Yang Mulia Majelis Hakim bisa membebaskan saya dari segala tuntutan Jaksa
Penuntut Umum (JPU) yang menurut saya sama sekali tidak benar, “ papar Eunike
Lenny Silas dengan meneteskan airmata.
Diakhir
pembelaannya, Eunike Lenny Silas mengatakan bahwa dari awal ia menyakini bahwa
ia tidak bersalah sehingga telah terjadi perdamaian di Jakarta. Kepada majelis
hakim yang memeriksa dan memutus perkaranya ini, Eunike Lenny Silas memohon
keadilan dan kebijaksanaan terhadap keputusan yang akan diambil untuk dirinya
karena dirinya dalam perkara ini adalah korban. (Zai)

